Lembaga penelitian dan Pengembangan Sumberdaya (LP2S) Universitas Muslim Indonesia Makassar Sebagai Host/Pelaksana bekerjasama dengan Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) kemenristek Dikti akan melaksanakan Pelatihan Reviewer Penelitian Perguruan Tinggi dan Sertifikasi Reviewer Penelitian Perguruan Tinggi pada tanggal 17 – 21 september 2019 di Four Points Sheraton Makassar.

Ketua LP2S UMI, Prof. Dr. H. Syahnur Said,SE.,MSi mengatakan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman reviewer mengenai paradigma baru anggaran riset berbasis ouput, beserta perangkat peraturan yang mendukungnya. “Pelatihan ini sudah menjadi bagian tanggungjawab kita semua untuk menghasilkan reviewer yang jujur dan profesional dalam menilai kelayakan proposal penelitian dan keluaran penelitian. Reviewer adalah bagian dari kelengkapan upaya untuk meningkatkan tiga indikator riset dan pengembangan yakni publikasi, kekayaann intelektual, dan prototype teknologi,” ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMI.

Kemenristekdikti menyelenggarakan “Pelatihan dan Sertifikasi Reviewer Peneltian” untuk meningkatkan pemahaman reviewer mengenai Panduan Pendanaan Riset Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti) yang terkini dan tatacara penilaiannya, imbuhnya.

Sebanyak 99 Peserta akan mengikuti Pelatihan dan Sertifikasi reviewer Penelitian Perguruan Tinggi dan mereka akan menerima materi dari DRPM, Kementrian Keuangan, Kementrian Hukum dan Ham, Badan Sertifikasi Nasional, Pusdiklat Kemenristedikti, Quantum HRM International dari tanggal 17-20 Sepember 2019. Dan tanggal 21 mereka akan mengikuti Sertifikasi Reviewer Penelitian Perguruan Tinggi.

Prof. Syahnur Menambahkan keberadaan reviewer jujur dan profesional harus mampu mendukung riset dan pengembangan dalam mencapai tiga indikator ouput penelitian baik secara kuantitas maupun kualitas. “Dengan materi yang komprehensif dan mengarah pada standar SNI ISO maka pelatihan ini diharapkan mampu menghasilkan reviewer jujur dan profesional yang mampu mengubah wajah riset dan pengembangan di Indonesia. Sehingga cita-cita kebangkitan teknologi nasional dapat kita wujudkan bersama.

Kembali ditambahkan Prof. Syahnur,  materi yang akan dibahas mencakup standarisasi kegiatan penelitian, arah kebijakan Kemenristekdikti dalam meningkatkan mutu penelitian. “Semua pembahasan materi, para peserta harus benar-benar paham dan sering berdiskusi dalam memahami materi. Karena materi yang disampaikan akan berpengaruh terhadap kemampuan inti seperti penelusuruan hak paten, audit keuangan kegiatan penelitian, etika reviewer, penilaian skema riset terapan, kriteria penugasan reviewer dan kebijakan penelitian di Perguruan Tinggi,” tandasnya.

(HUMAS)