UMI Makassar – Dalam rangka menyambut 1 Muharram 1436 H/2014 M, Universitas Muslim Indonesia (UMI) melaksanakan berbagai kegiatan, diantaranya; silaturrahmi dan temu tokoh agama kerjasama Kementrian Agama Provinsi Sulawesi Selatan  yang berlangsung di Auditorium Al-Jibra Kampus 2 UMI (23/10).

Hadir dalam acara tersebut, gubernur Sulsel sekaligus membuka acara yang diwakili staf ahli gubernur, H. Haris, SH., MSi., Kepala Kementrian Agama Sulsel Drs. H. Gazaling Suyuti, M.Hi, Rektor UMI Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar, MA., Ketua MUI Sulsel, AGH. Dr (Hc) Sanusi Baco,Lc.

Kurang lebih 600 orang terdiri atas tokoh agama (Islam, Kristen, Hindu, Budha), kepala kementrian agama kab/kota se Sulsel, ketua MUI kab/kota se Sulsel, pimpinan Ormas Islam, pimpinan universitas, pimpinan fakultas  dan ketua lembaga dalam lingkup UMI.

Hadir sebagai narasumber, wakil menteri agama RI, Prof.Dr. H. Nasaruddin Umar, MA., Ketua MUI Sulsel, (AGH. Dr. (HC) H. Sanusi Baco, Lc., Ketua FKUB Sulsel, Prof.Dr. H. Rahim Yunus, MA., Pangdam VII Wirabuana, Kapolda Sulselbar.

Rektor UMI, Prof. Dr. Hj. Masrurah Mokhtar,MA dalam sambutannya mengapresiasi Kemenag dengan kerjasama ini dalam upaya mendorong dan menopang peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan semangat hijraturrasul.  Selain itu, UMI membuka peluang kerjasama dengan instansi, lembaga yang memiliki visi yang sama dengan UMI sebagai lembaga pendidikan dan dakwah.

Dikatakan pula, peringatan muharram merupakan agenda tahunan UMI dan untuk tahun ini, selain temu tokoh dengan kerjasama Kemenag, UMI juga akan melakukan gerak jalan santai dengan melibatkan tukang becak dan pemulung pada hari Ahad 26 Oktober 2014.

“Event ini sebagai bentuk kepedulian UMI kepada sesama dan mengajak untuk bersama memaknai hijraturrasul sebagai momentum untuk menuju kehidupan yang lebih baik kedepan dengan senantiasa mengedepankan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah bashariya,” ujar mantan dekan Fakultas Sastra UMI dua periode ini.

Gubernur Sulsel diwakili staf ahli gubernur mengatakan, semangat hijraturrasul telah meletakkan pondasi norma dan nilai-nilai dalam memahami kultur dan budaya lokal keagamaan melalui aspek kognitif dan normatif keragaman budaya Islam dengan lingkungan sosial, selanjutnya tantangan lain yakni masih minimnya aplikasi nilai budaya lokal dan moral oleh masyarakat yang harus diselesaikan dengan cepat dan terintegrasi.

“Melalui forum silaturrahmi ini diharapkan dapat menghasilkan solusi dan konsep yang konstruktif dalam menyikapi kondisi pola perikehidupan beragama yang beragam dan plural termasuk antar umat beragama. Olehnya itu, pengembangan semangat hijraturrasul di masa yang akan datang, seyogyanya orientasinya didorong oleh dua dimensi yaitu dimensi penanaman rasa taqwa kepada Allah SWT dan dimensi mengarahkan pada pengembangan hubungan dan interaksi kepada sesama guna terciptanya karya yang memberi manfaat buat manusia,” harapnya.

Narasumber wamen agama RI Prof.Dr. H Nasaruddin Umar, MA mengatakan, pengertian hijrah, bukan kata pengecut yang dialamatkan orientasi kepada nabi karena nabi meninggalkan Mekkah menuju Madinah.

Dikatakan pula, hijrah sesungguhnya memiliki prinsip, manakala ada suatu tempat yang tidak nyaman sebagai abid dan khalifah, maka perlu melakukan hijrah, karena nabi menganggap tidak lagi dapat menjalankan syiar agama, karena Mekkah saat itu kota musryik, hijrah juga dapat bermakna  transformasi oriented spiritual.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!