Dirangkaikan penyerahan sembako bagi masyarakat kurang mampu

UMI Makassar – PW Muslimat NU Sulsel kerjasama Universitas Muslim  Indonesia menggelar zikir dan Doa’ dalam rangka peringatan Hari Asyura 10 Muharram 1436 H., yang dilaksanakan di Rusunawa UMI, Pampang bersama 200 masyarakat kurang mampu yang berada disekitar kampus 2 UMI (3/10).

Kegiatan yang diawali shalat ashar berjamaah ini merupakan agenda tahunan ini menghadirkan Dr. H.Andi Darmawangsa,MA memimpin zikir dan do’a, dilanjutkan taushiyah Ketua PW Muslimat NU Sulsel, Dr. Hj. Nurul Fuadi,MA  dan penyerahan sembako kepada 200 masyarakat kurang mampu di kelurahan pampang yang diserahkan Rektor UMI, Prof.Dr. Hj.Masrurah Mokhtar, MA dan Pengurus Wilayah Muslimat NU Sulawesi Selatan diiringi dengan lantunan shalawat dan diakhiri dengan acara buka puasa bersama.

Dalam sambutannya, Rektor UMI, Prof.Dr. Hj.Masrurah Mokhtar,MA., mengatakan bulan Muharram merupakan bulan istimewa, menyimpan banyak makna yang patut ditafakkuri dan ditadabburi. Muharram juga tersimpan hari mulia “Asyura” yang mencatat sejarah penting, dikenang sebagai hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Nuh a.s. dari bencana banjir dan menenggelamkan musuh-musuh-Nya.

Sementara itu, Ketua PW Muslimat NU Sulsel,DR. Hj. Nurul Fuadi,MA., mengatakan kegiatan ini merupakan agenda rutin setiap tahun sebagai bentuk kepedulian sesama umat. Selain itu, setiap 10 Muharram seluruh pengurus Muslimat NU dan warga nahdliyyin dihimbau untuk berpuasa. Berpuasa pada hari asyura, didasarkan ketika Rasulullah berhijrah, beliau mendapati penduduk kota Madinah melakukan puasa pada hari Asyura. Seorang Yahudi mengatakan kepada

Rasulullah bahwa Asyura adalah hari agung dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari ancaman musuhnya, sehingga Musa berpuasa pada hari itu, Rasulullah pun menjawab “Aku lebih berhak atas Musa dari kalian”(Sahihain), lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya berpuasa.

“Puasa yang kita lakukan, tentunya mempunyai kandungan makna yang cukup mendalam dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat, karena menanamkan kepada kita nilai-nilai pengorbanan, perjuangan, solidaritas antar umat beragama, tenggang rasa dan yang terpenting semangat anti kekerasan dan anti anarkisme dalam setiap langkah upaya dan perjuangan kita. Semoga puasa Asyura kita diterima Allah dan mampu mencerminkan makna yang terkandung di dalamnya,” ujar Dosen pascasarjana UMI ini.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!