Melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi tertentu di era persaingan global dan era disrupsi ini memerlukan ketelitian dan kecermatan bagi para calon mahasiswa baru. Globalisasi dan era yang terus berubah dengan cepat dan sulit diprediksi atau yang dikenal dengan era disrupsi memerlukan sarjana yang terampil dan adaptif dengan perubahan.

Pandemi Covid-19 memberikan pembelajaran bahwa sistem kehidupan telah saling terhubung satu sama lain tanpa batas negara yang dikenal dengan globalisasi. Belajar dan bekerja dari rumah selama Pandemi Covid-19 menjadi fenomena baru.

Perguruan tinggi yang memiliki dosen dan tenaga kependidikan yang kompoten dan menguasai Teknologi Informasi masih dapat melakukan Proses Belajar Mengajar yang baik melalui Pembelajaran Daring (Online System). Kebijakan Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar oleh Menteri Nadiem Makarim menuntut kesiapan tata kelola pendidikan yang baik (good governance) serta kesiapan kualitas dosen dan tenaga kependidikan.

Hal tersebut mengharuskan calon mahasiswa dapat merencanakan pendidikannya sebaik mungkin. Meraih keberhasilan masa depan bukan suatu kebetulan, tetapi harus didesain dan diputuskan yang diawal dengan menetapkan pilihan perguruan tinggi yang tepat. Calon mahasiswa dituntut dapat memilih perguruan tinggi yang berkualitas, bermutu dan unggul. Salah satu parameter penting adalah dengan mencermati status Akreditasi perguruan tinggi yang akan dipilih. Akreditaditasi menjadi gambaran mutu tata kelola dan pencapaian sebuah perguruan tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah RI melalui Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN -PT).

Perguruan tinggi terakreditasi Institusi A atau Perguruan Tinggi Bermutu Unggul atau kategori akreditasi tertinggi di Indonesia baru sebanyak empat perguruan tinggi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang terdiri dari tiga Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Universitas Muslim Indonesia (UMI) menjadi satu-satunya PTS terakreditasi A di Indonesia Timur. UMI adalah PTS pertama terakreditasi Institusi A di luar Pulau Jawa. UMI menjadi pilihan tepat untuk melanjutkan kuliah atau melanjutkan pendidikan berkualitas.

Hal ini bukan tanpa alasan, karena lembaga pendidikan yang didirikan oleh ulama dan pemerintah pada tahun 1954 itu, merupakan Perguruan Tinggi Swasta telah mendapatkan Akreditasi ‘A’ (Unggul) dan satu-satunya di Indonesai Timur.

UMI juga memiliki 57 program studi yang 18 diantaranya telah terakreditasi ‘A’ dan selebihnya akreditasi B. “UMI juga memiliki dosen sebanyak 51 orang diantaranya adalah Profesor dari jumlah dosen secara keseluruhan berjumlah 849. Jumlah dosen UMI dengan kualifikasi Profesor memecahkan rekor sebagai perguruan tinggi swasta dengan jumlah profesor yang terbanyak dalam lingkup LLDkti Wilayah IX Sulawesi,” Hal ini disampaikan Ketua Panitia Penerimaan Maba UMI, Dr. Ir. H. Hanafi Ashad, MT (16/4).

Selain itu, calon mahasiswa berpeluang untuk mendapatkan beasiswa dalam berbagai sumber-sumber pembiayaan, baik yang disiapkan UMI, maupun pemerintah dan sponsor mitra UMI.

UMI memilki ciri khas sebagai lembaga Pendidikan tinggi Islam dengan program Kampus Islami dan pesantren kilat bagi mahasiswa baru sebagai pengganti ospek. Hal ini sebagai bagian dari upaya menyiapkan SDM yang siap bersaing di era disrupsi dengan kompetensi kecerdasan akademik dan berkarakter yang relijius, menjunjung tinggi kebenaran dan memiliki tanggung jawab sosial.

(HUMAS)