UMI Makassar – Kajian Ba’da Dhuhur tentang Kecerdasan Emosional berlangsung di Masjid Umar Bin Khattab Kampus 2 UMI (18/3) oleh Dr.Ir.H.Amir Tjoneng.

Hadir Ketua LPDKI UMI Dr.M.Ishaq Shamad, M.A, sejumlah dosen dan ratusan mahasiswa UMI.

Dr. Amir Tjoneng menyatakan kecerdasan emosional manusia yang terbaik adalah ketika ia mampu mengendalikan diri dan emosinya. Ia mencontohkan kisah Gubernur Mesir bernama Malik al-Asyghar yang dilempar oleh seorang pemilik toko ketika ia lewat di depan tokonya karena ia tidak tahu yang dilempar itu adalah seorang Gubernur. Sejurus kemudian, tetangga memberitahunya bahwa yang dilempar itu adalah seorang Gubernur.

Betapa ia terperanjat dan ketakutan akan hukuman yang akan menimpanya, maka kemudian ia mendatangi sang Gubernur untuk meminta maaf. Setelah sekian lama mencari, akhirnya ia menemukan sang Gubernur lagi shalat di dalam masjid. Ia menunggu sampai Gubernur selesai shalat. Sejurus kemudian ia memohon permohonan maaf sang Gubernur atas prilakunya yang melempar di depan tokonya. Sang Gubernur kemudian berkata” saya datang ke masjid shalat dua rakaat untuk mendo’akan kamu agar diampunkan kesalahanmu oleh Allah Swt. Bagi saya tidak usah khawatir, saya sudah maafkan”, urainya.

Sungguh suatu sikap pemimpin yang sangat bersahaja, betapa tidak, orang berbuat jahat padanya, tetapi justru ia memaafkan dan mendoakan serta memohonkan ampunan dari Allah SWT. Inilah yang dikenal dalam Al-Qur’an dengan walkaazimiynal ghaid, yakni pengendalian diri. Menurut Amir Tjoneng, ada lagi derajat yang lebih tinggi dalam Al-Qur’an selain pengendalian diri, yakni wal aafiyna aninnaas (memaafkan orang lain).

Sesudah memaafkan orang lain, yang perlu dilakukan adalah dengan berbuat baik kepada orang yang berbuat salah, sebagaimana Allah berfirman waahsin kamaa ahsanalllaahu ilayhi (Berbuat baiklah karena Allah berbuat yang terbaik bagimu), seperti yang dipraktekkan oleh Malik al-Asyghar. “Inilah tingkatan tertinggi dari kecerdasan emosional,” jelasnya.

(Humas UMI)

error: Content is protected !!