Idul Adha adalah hari  persatuan umat, persatuan umat merupakan ajaran Islam yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Hari ini, puncak pertemuan umat Islam dari segenap penjuru dunia di  Tanah Haram, merupakan suatu bukti ajaran persatuan dalam Islam. Mereka berkumpul serentak memenuhi panggilan Allah, bersimpuh dan bersujud di hadapanNya di Padang Arafah, hal ini  disampaikan Drs. KH Zain Irwanto, MA  saat menyampaikan khutbah Idul Adha di depan jamaah  Masjid Umar bin Khattab Kampus 2 UMI (11/8).

Kita duduk Bersama, berbaris yang lurus, rapat serta dipenuhi oleh semangat dan rasa persatuan, ruku sama ruku, sujud sama sujud dan duduk sama duduk di bawah komando satu imam. Kita diajak ikut serta dalam usaha menegakkan agama Islam dan menyiarkan agama Islam, membina negara, umat dan bangsa, teguh dan bersatu hati di bawah satu komando pula, tidak bercerai berai dan pantang menyerah, tegas Wakil Rektor IV Universitas Muslim Indonesia ini.

Lanjut dikatakan, selain makna tersebut juga peringatan idul adha, ada empat pelajaran yang dapat dipetik kisah Nabi Ibrahim yang mendapat ujian oleh Allah untuk menyembelih anaknya melalui mimpi  (wahyu) dan kemudian ketika mereka menunjukkan ketaatan menjalankan perintah Allah, maka   digantikannya  Nabi Ismail   dengan seekor domba.

Pertama, berbaik sangka kepada Allah, Nabi Ibrahim as, bersama istrinya Siti Hajar, mampu berbaik sangka kepada Allah, mereka meyakini bahwa selagi mereka bersama Allah, maka tidak ada yang menyengsarakannya,  tidak akan ada yang mencelakai dan melukainya. Kedua, bersungguh-sungguh dalam menjemput rezki dengan mengeluarkan segala kemampuan yang kita miliki karena kita diperintahkan bukan cuma melihat hasil,  tapi juga usaha dan tenaga yang kita keluarkan dan Rasulullah mencintai orang-orang yang bekerja keras. Ketiga  Berkurban untuk Allah SWT., kepasrahan dan pengorbanan yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dengan anaknya Ismail, berlomba-lomba untuk mendapatkan cinta Allah, walaupun yang dikorbankan adalah diri Ismail, dan alhamdulillah Allah menggantinya dengan seekor domba, Keempat,  mendidik keluarga, Nabi Ismail tidak akan menjadi anak yang penyabar, jika tidak mendapat Pendidikan dari Ibunya , Siti Hajar dan Bapaknya Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim as tidak akan dapat sabar jika tidak didikan Allah SWT melalui wahyuNya, ujar Zain Irwanto.

Seorang anak dalam perkembangnnya membutuhkan proses  yang panjang, maka peran orang tua dalam membentuk yang berakhlak mulia sangat dibutuhkan.  Perhatian sempurna kepada anak semenjak  dari masa mengandung, melahirkan hingga sampai masa kewajiban diberikan pundak orang tua oleh agama dan hukum masyarakat, tegas zain irwanto yang juga Direktur Pondok Pesantren Darul Mukhlisin UMI Padanglampe ini.

(HUMAS)