Makassar, umi.ac.id – Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar webinar lintas negara via zoom, Sabtu (13/6/2020). Kegiatan ini juga merupakan rangkaian Milad FK UMI ke 28.

Pada kegiatan Seminar ini Di bagi menjadi empat sesi.
Sesi pertama sebagai Materi Suplemen IDI bertajuk ‘Etika dan Profesionalisme Dokter menghadirkan narasumber Dekan FK UMI Prof. Dr. Syarifuddin Wahid, SpPA (K), Ph.D, SpF, DFM (Indonesia), Wakil Dekan I FK UMI Dr. dr. Nasrudin Andi Mappaware, SpOG (K), MARS.

Sesi Kedua “Mutasi Dan Vaksin SARS – Cov – 2”, Mutasi SARS-Cov-2 oleh : Dr. Andy Visi Kartika, SpPA (K), M.Kes (Candidat Ph.D from Shimane University Japan), Vaksin SARS-Cov-2 oleh : Dr. Amrizal, M.Kes (Candidat Ph.D from Shimane University Japan).

Sesi Ketiga “ Nutrisi, Imunitas, Dan Potensi Prophetic Nutritions untuk mengatasi Covid 19” oleh : Dr dr Ida Royani Wahab, M.Kes., Dr. Marwa Mostafa El- Sonbaty (Lecture and Researcher from Taibah University).

Sesi Keempat “ Iman, Modalitas Utama di Tengah Pandemi Covid- 19” oleh : Dr dr. Muhammad Khidri Alwi, M.Kes, M.Ag.

Dalam kesempatan itu, Dekan FK UMI Prof Dr dr Syarifuddin Wahid mengatakan, sebagai seorang saintis, diwajibkan memahami juga hadis nabi terkait kesehatan, salah satunya tentang kandungan buah kurma, juga dengan cara saintis.

“Bagaimana mekanismenya secara sainstis, bagaimana itu kurma, purwa, itu ajwia. Katanya sainstis bisa menyembuhkan, bisa meningkatkan imun seseorang seperti yang saya jelaskan pengantar tadi sebagai bahan pembicaraan kita,” papar Guru Besar Fakultas Kedokteran UMI ini.

“Karena yang bersifat umum seperti hadist dan lain sebagainya sudah diketahui banyak oranglah tentang kurma ini karena itu yang dianjurkan oleh Nabi,” sambung Prof Syarifuddin.

Sehingga kata Prof Syarifuddin, seorang akademisi kesehatan, tidak boleh berhenti mendalami manfaat buah atau tumbuhan yang memberikan banyak nutrisi bagi kesehatan seperti yang banyak dijelaskan oleh hadis.

“Sekarang yang secara sainstes bagaimana mekanisme sainstesnya sehingga apa yang dikatakan Nabi itu perlu terus diuji secara akademis,” paparnya.

Sementara itu, Dr.dr.Nasruddib AM yang bertindak sebagai moderator menjelaskan, para peneliti hadis sampai saat ini juga masih terus mengembangkan penelitian kesehatan berdasarkan keterangan hadis nabi.

“Jadi memang, saudara-saudara sekalian apabila kita berada di Universiti Islam Madinah, para perawih hadist itu luar biasa mereka memberikan kita apresiasi. Mereka ternyata sampai hari ini masih mengkaji beberapa hadist tentang kurma, ajwa, dan beberapa yang lain. Dan ternyata mereka sangat memberikan kita (islam) apresiasi untuk mengkaji secara saintic, secara ayat-ayat kauniah,bagaimana ajwa dan yang lain sedangkan mereka mengkaji dari perspektif ayat-ayat kauliyah,” tutur Nasaruddin.

Sementara Dr Andi Visi Kartika banyak menjelaskan mutasi Virus Corona sejak awalnya munculnya beberapa tahun lalu. Kemudian Dr Amrizal menerangkan upaya penelitian yang terus dilakukan demi menciptakan vaksin berbagai jenis penyakit akibat virus corona.

Diskusi yang berlangsung apik ini terselenggara kurang lebih empat jam. Peserta dan narasumber terpantau akrab, dan tidak sedikit mereka saling menyapa.

(HUMAS)